rs1

Info Balap Liar Jakarta

Info Balap Liar Jakarta
WE ARE DRAGSTER NOT GANGSTER)......Pemesanan jaket I B L J di nomer : 0896 7696 5222 (rendy)......Perkopling Racing JFK mencari distributor Luar daerah Hub:089670261768 pin : 24d2d8c7......Pemasangan Iklan Hub: Email infobalapliarjakarta@yahoo.com......WE ARE DRAGSTER NOT GANGSTER

Hasil rsce 5 oktober 2015 Ninja (Tekno Tuner) Vs Nova Dash (D2M) Win : Ninja Tekno Tuner

Jumat, 13 Januari 2012

MEMBACA SOKET CDI


Binggung mau ganti CDI. sedikit gambar berikut mungkin bisa membantu.
Dengan mengetahui jalur dan soketnya kita dengan mudah bisa konversi macam macam CDI. tentunya tanya dulu sama yang tau cocok dak kalau dipasang, jangan sampai cdi ac dipasang cdi dc.




TYPE MOTORSOKET 1SOKET 2SOKET 3SOKET 4SOKET 5SOKET 6
JUPITER & MIOKOIL (ORANGE)MASSA (HITAM)SUMBER ARUS 12 V (COKLAT)MASSA (MERAH)PULSER (PUTIH)KOSONG
SATRIA 150 F KOIL (PUTIH/BIRU)MASSA (HITAM/PUTIH)PULSER (BIRU/KUNING)MASSA (ORANGE)TACHOMETER 12 VOLT (HIJAU/PUTIH)
SATRIA 120 R12 VOLT (ORANGE/PUTIH)KOSONGPULSER (HIJAU/PUTIH)MASSA (HITAM/PUTIH)MASSA (BIRU/KUNING)KOIL (PUTIH/BIRU)
SMASH 110KOILMASSAPULSERMASSAKOSONG12 VOLT






TYPE MOTORSOKET 1SOKET 2SOKET 3SOKET 4SOKET 5
SUPRA SERIESMASSAPULSERKUNCI KONTAKSPULL INPUTKOIL










TYPE MOTORSOKET 1SOKET 2SOKET 3SOKET 4SOKET 5SOKET 6
SHOGUN 110MASSAPULSERKOILKOSONG12 VOLTKOSONG
SHOGUN 125 MASSAPULSERKOILKOSONG12 VOLTKOSONG
TIGER 2000MASSAPULSERKOILMASSASPULL INPUTKUNCI KONTAK
MEGA PROMASSAPULSERCOILKOSONG12 VOLTKOSONG










TYPE MOTORSOKET 1SOKET 2SOKET 3SOKET 4
KARISMA 125KOILMASSA12 VOLTPULSER












TYPE MOTORSOKET 1SOKET 2SOKET 3SOKET 4
SONIC 125 + KIRANA12 VOLTPULSERMASSAKOIL

.
(Berbagai sumber)

Semoga bermanfaat

Terima kasih 





Berita Terkait :

Gabung Juga Di Grup IBLJ Komunitas Drag Indonesia

Biografi bengkel HRD Specialis 2 Tak


Banyak hal yang menarik untuk dibahas bersama Teman-teman IBLJ dari seputar mesin,pertandingan,modifikasi dan Biografi bengkel beserta mekanik-mekaniknya....dan tentunya tidak semerta-merta tanpa alasan berita itu di buat untuk di angkat ke permukaan,tentunya ada hal lain yang membuat IBLJ layak untuk menginformasikan berita ini kepada teman-teman....Ok kali ini IBLJ akan mengenalkan Salah Satu 
bengkel Yang bisa di katakan Senior Karna memiliki Jam terbang yg tinggi di dunia persilatan (balap liar maupun resmi)
Ini dia




bengkel HRD telah malang melintang Untuk menjadi sosok yag disegani Seperti saat ini HRD berdiri sejak awal tahun 90 an tepatnya di malang yaitu jl. tidar ,nama HRD diambil Dari nama Hardy yaitu generasi pertama dari pemilik nama bengkel tersebut Beliau adalah mantan karyawan Yamaha yang saat ini telah vacum dari dunia persilatan sejak th 2008 lalu....dan kini di teruskan oleh generasi k2 dari HRD yaitu Bro firman irianto ananda dari Hardy atau (Firman HrdRacingproject ) https://www.facebook.com/#!/hrdracingproject panggilan akrab di Facebook yang sering juga kita jumpai namanya di Grup fb IBLJ...
    Setelah bertahan beberapa tahun di malang, HRD memutuskan untuk Hijrah ke jakarta pada tahun 94tan awal ...tepatnya di Kemayoran di daerah (gempol dpn apotik angkasa)...Kemudian pindah  ke Ciledug th 97an hingga kedaerah Cilegon-serang Namun tutup di th 2001....pada th 2003 HRD buka bengkel rekanan letaknya di daerah jambi yang hanya mampu bertahan hingga th 2005......Wahhh panjang banget Historynya ya....eee Ternyata ga sampe disitu..........kemudian pindah lagi dan buka di Makasar yang di kembangkan Oleh sepupu bro Firman HrdRacingproject yang masih eksis hingga sekarang.....lalu pada awal th 2007 HRD kembali eksis di jakarta dan kali ini berlokasi di daerah bekasi tepatnya didaerah paku mas....bro firman mengaku disanalah tempat pusat riset Engine mereka...hingga saat ini karna keahlianya meracik mesin-mesin 2tak...bengkel HRD di percayai dan di kenal sebagai Pengerajin kenalpot Khususnya 2tak
berikut hasil karya-karyanya :














                                                              Ninja stainlis sil.carbonan





Dan tak jarang motor-motor buatanya pun menyabet piala pada ajang balap resmi









Dan hingga saat ini bro firman lah yang menggelolah dan bertanggung jawab penuh atas Nama bengkel  HRD ...sekiranya cukup untuk kita bisa menilai dan menghargai perjuang sobat kita dari generasi pertama Hardy hingga ke generasi ke2 Firman HrdRacingproject, yang sanggup dan terus eksis meramaikan dunia otomotif  Indonesia...(SALUT UNTUK HRD)
adahal lain mengapa IBLJ mengangkat history dari salah satu bengkel senior di Indonesia ini....agar para mekanik muda bisa menghargai para senior-senior yang lebih dulu eksis...(KEEP SPORTIFITAS)

Bagi teman-teman yg  ingin besutannya makin tambah kenceng dan berminat untuk memesan kenalpot khususnya motor 2tak buatan HRD bisa langsung menghubungi akun fb bro
Firman HrdRacingproject di https://www.facebook.com/#!/hrdracingproject


semoga bermanfaat

TERIMA KASIH



twitter@iblj https://twitter.com/#!/your_activity

Kamis, 12 Januari 2012

Arti warna kabel body pada tiap pabrikan motor




Warna kabel body motor ...beda merek motor beda pengertianya. Susah dimengerti orang awam. Apakah artinya? Padahal oleh pabrikanan dibuat sederhana biar semua orang ngerti.

Dasarnya bermacam-macam kabel itu hanya bermuatan positif (+) atau negatif (-) saja.  Jadi memang mudah untuk dimengerti.

 berikut dibeberkan soal panduan arti sejumlah warna kabel di empat pabrikan ternama. Tentu tidak semua. Tapi bagian yang paling mungkin ditangani atau dibuka sendiri.OK




HONDA
Hijau : (-) Masa, berlaku untuk semua negatif
Merah : (+) Aki
Hitam : (+) Kunci kontak
Putih : (+) Alternator pengisian (+) Lampu dekat
Kuning : (+) Arus beban ke saklar lampu
Biru : (+) Lampu jauh
Abu-abu : (+) Flaser
Biru laut : (+) Sein kanan
Oranye : (+) Sein kiri
Coklat : (+) Lampu kota
Hitam-Merah : (+) Spul CDI
Hitam-Putih : (+) Kunci kontak
Hitam–Kuning : (+) Koil
Biru-Kuning : (+) Pulser CDI
Hijau-Kuning : (+) Lampu rem
(Sumber: Sarwono Edi, Staf Divisi Teknik, PT Astra Honda Motor)

KAWASAKI
Hitam-Kuning : (-) Masa
Putih-Merah : (+) Aki
Merah-Hitam : (+) Lampu depan jauh/dim
Merah-kuning : (+) Lampu depan dekat
Abu-abu : (+) Sein kanan
Hijau : (+) Sein kiri
Biru : (+) Lampu rem
Merah : (+) Lampu belakang
Coklat : (+) Klakson
(Sumber: Freddyanto Basuki, Service Department Marketing Division, PT Kawasaki Motor Indonesia. Buku Panduan Sepeda Motor Kawasaki)

SUZUKI
Hitam-Putih : (-) Massa, berlaku untuk semua negatif
Putih-Merah : (+) Pengisian dari magnet
Kuning-putih : (+) Untuk ke penerangan
Merah : (+) Aki
Oranye : (+) Kunci kontak
Abu-abu : (+) Lampu belakang
Putih-Hitam : (+) Lampu rem
Hijau muda : (+) Sein kanan
Hitam : (+) Sein kiri
Kuning-putih : (+) Lampu depan
Putih–Biru : (+) Koil ke CDI
Biru-Kuning : (+) Pulser ke CDI
(Sumber : Pendi Suryanda, Supervisor Training Instruktur Senior Roda Dua PT Indomobil Niaga International)

YAMAHA
Hitam : (-) Masa, berlaku untuk semua negatif
Merah : (+) Arus positif dari Aki
Kuning : (+) Lampu depan jauh
Hijau : (+) Lampu depan dekat
Coklat : (+) Sein kiri
Hijau : (+) Arus beban (penerangan dll)
Putih-Merah : (+) Pulser CDI
Hijau-Hitam : (+) Rem


Semoga bermanfaat

Terima kasih 





Berita Terkait :

Gabung Juga Di Grup IBLJ Komunitas Drag Indonesia

Rabu, 11 Januari 2012

Standard pemasangan ring piston masing-masing brand berbeda

Standar



Ukuran gap ring ketika terpasang 0,1 sampai 0,25 mm(kiri). Posisi celah atau gap ring seher menentukan performa mesin(kanan).
Pasang ring seher di piston mesin 4-tak pada prinsip untuk semua merek motor  sama. Terutama dalam hal menempatkan posisi celah antara ring 1, 2 dan ring oli. Baik itu di motor Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki atau merek lain yang namanya tidak disebutkan satu per satu. Saat ditelusuri ke semua pabrikan, hampir rata-rata memasang susunan ring dengan celah atau gap jaraknya sekitar 120 derajat.

Meskipun hampir sama, jika diliti lebih jauh tenyata posisi celahnya terkadang memiliki perbedaan jarak dan posisi pasang di seher. Konon perbedaan tersebut dipengaruhi oleh desain seher pada masing-masing karakter mesin itu sendiri. Artinya pemilik mekanik mesti waspada ketika ingin meracik komponen vital ini.

Untuk lebih jelasnya, berikut paparan dan perbedaan posisi celah ring seher di tiap motor.


 Posisi ring bisa beda, sesuai karakter seher
Kawasaki Bisa Beda
Celah ring seher ketika dipasang pada piston di mesin Kawasaki, prinsipnya sama seperti di motor 4-tak merek lain. Contoh di ZX130, celah ring pertama ditempatkan di tengah piston mengarah lubang klep inlet. Sedangkan ring kedua harus memiliki jarak 120 derajat dari ring 1, posisinya terpasanag sebelum bagian tengah piston mengarah ke lubang exhaust.

Nah, posisi ring oli yang bentuknya bergelombang mesti dipasang sejajar dengan ring 1. Namun spacer atau penyekat ring oli, keduanya bisa dipasang lebih dekat atau berjarak 30~40 derajat dekat bagian seher yang mengarah ke lubang exhaust.

"Tapi ingat. Posisi celah ring seher bisa saja berbeda. Tergantung tipe seher yang dipakai. Apakah hi speed atau tidak,” wanti Freddyanto Basuki, Manager Promotion & Sales PT Kawasaki Motor Indonesia.


 Posisi spacer ring oli berjarak 120 derajat
Suzuki Sama Saja
Seperti sudah dibilang diawal, celah ring seher di mesin 4-tak prinsipnya hampir sama. Yang membedakan posisi gap tersebut sesuai desain atau karakter mesin yang diusung.

Contoh di Suzuki Shogun 125. Celah ring seher pertama di bagian tengah piston arah ke klep in. Lalu celah ring kedua 120 derajat dari ring 1 sebelum bagian tengah piston arah ke lubang ex. Sementara posisi ring oli sejajar ring 1.

“Adapun 2 specer yang terpasang diantara ring oli, posisisnya dipasang di bawah ring ke-2 dan 120 derajat ke arah kanan seher yang menghadap ke lubang ex,” ucap Jhosep Antony . Head Supervisor Training Instruktur Senior 2W PT Suzuki Indomobil Sales (SIS).

Jadi, semuanya hampir sama. Intinya bisa membendung kebocoran kompresi. Sehingga tidak ngempos.


Patokannya 120 derajat
Honda
Pemasangan ring seher di Honda sama dengan pabrikan lainnya. Jarak antar celah ring satu dengan ring seher lainnya 120 derajat.  “Supaya enggak terjadi kebocorang kompresi,” kata Sarwono Edhi, Technical Service Instructure Astra Honda Training Center (AHTC), Sunter, Jakarta Utara.

Jarak antar celah ring seher 120 derajat akan berubah karena putaran mesin yang tinggi. Bisa terjadi waktu penggunaan motor mencapai 15.000 km. Celah ring dengan ring yang lainnya sudah mendekati sejajar.

“Faktanya, salah satu ring pasti akan bergeser dan celahnya ke arah lubang buang. Tapi, kompresi enggak bakal bocor karena posisi celah ring yang lain tidak di lubang buang. Saling menutupi. Intinya dengan dipasang 120 derajat,” ujar Edhi yang berkaca mata.

Jadi, Honda sama dengan produsen motor Jepang yang lain.


 45 derajat jarak celah ring oli dari lubang buang
Yamaha
Pemasangan ring seher yang diterapkan Yamaha  tetap membagi tiga posisi celah ring. Supaya enggak sejajar celah ring lainnya. Hitungannya tetap di posisi topnya seher dengan masing-masing ring 120 derajat.

“Diambil derajatnya tinggi supaya enggak cepat terjadi bocor kompresi. Bocor kompresi muncul kalau celah ring yang satu dengan yang lainnya sejajar,” ujar Slamet, Technical Service Instructure PT Yamaha Indonesia Motor  Manufacturing (YIMM), Jakarta Pusat.

Selain jarak antar ring, celah ring oli atas bawah sebisa mungkin minimal 45 derajat dari lubang buang. “Logikanya simpel. Tekanan ring ke dinding silinder paling besar ke arah lubang buang. Jarak 45 derajat untuk ring oli supaya celahnya jangan cepat bergeser dan mengarah ke lubang buang. Ini pun bisa bocor kompresi,” jelas Slamet dari  Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Komentar Pabrikan Piston
Pasang ring seher memang yang paling benar mengikuti buku manual yang dikeluarkan ATPM. “Dan pada intinya hampir sama untuk setiap mesin 4-tak. Jarak antar gap ring seher membentuk sudut 120 derajat,” jelas Junus Budi Sarojo, Development Product PT FIM (Federal Izumi Manufacturing).

Menurut  Pak Junus, intinya dibuat menyilang. Supaya kompresi tidak bocor. Dan yang perlu diketahui masing-masing ring punya tugas. Ring  1 paling atas untuk nahan kompresi. Ring kedua sebagai sealer, menyapu oli dan menahan kompresi.Sedang ring ketiga sebagai penghalau oli.

Makanya yang paling penting lagi, justru ukuran gap ringnya. “Ketika dimasukkan ke lubang liner, besarnya gap ring antara 0,1 sampai 0,25 mm,” jelas Pak Junus yang berkumis itu.

Kalau ukuran gap ring lebih besar dari itu, ring seher harus ganti. Menandakan sudah terkikis atau salah ukuran.  Karena kunci power mesin letaknya di gap ring ini. Katanya akan percuma ring seher yang dipasang benar tapi gap ring sudah menganga. Tenaga mesin akan ngempos.   (motorplus-online.com)

semoga bermanfaat

www.infobalapliarjakarta.blogspot.com

Selasa, 10 Januari 2012

Konversi satuan alat ukur

 apabila teman2 membutuh kan satuan konversi alat ukur silahkan melihat ini sebagai bahan pertimbangan.....semoga bermanfaat
Power
horsepower, kilowatt, watt,btu/second, calorie/second, foot lbf/second, kilocalorie/second
  • 1 W = 1 kg m2/s3 = 1 Nm/s = 1 J/s
  • 1 kW = 1,000 Watts = 3,412 Btu/h = 737.6/550 British hp = 1.341 British hp = 103/9.80665 kgf m/s = 737.6 ft lbf/s = 103/(9.80665 75) metric hp
  • 1 hp (English horse power) = 745.7 W = 0.746 kW = 550 ft lb/s = 2,545 Btu/h = 33.000 ft lb/m = 1.0139 metric horse power ~= 1.0 KVA
  • 1 horsepower (mech) = 2542.47 Btu (mean)/hr = 42.375 Btu (mean)/min = 0.7062 Btu (mean)/sec = 6.416×105 calorie/hr (termo) = 6.412×105 calorie (IST)/hr = 6.4069×105 calorie(mean)/hr = 10694 calorie/min (thermo) = 10686 calorie (IST)/min = 10678 calorie (mean)/min = 10.686 calorie, kg/min (IST) = 7.457×109 erg/sec = 1980000 foot pound-force/hr = 33000 foot pound-force/min = 550 foot pound-force/sec = 0.076 horsepower (boiler) = 0.9996 horsepower (electric) = 1.0139 horsepower (metric) = 745.7 joule/sec = 0.7457 kilowatt = 0.7456 kilowatt (Int) = 0.212 ton of refrigeration = 745.7 watt
  • 1 horsepower (boiler) = 33445.6 Btu (mean)/hr = 140671.6 calorie/min (thermo) = 140469.4 calorie (mean)/min = 140742.3 calorie (20oC)/min 9.8095×1010 erg/sec = 434107 foot-pound-force/min = 13.1548 horsepower (mech) = 13.1495 horsepower (electric) = 13.3372 horsepower (metric) = 13.1487 horsepower (water) = 9809.5 joule/sec = 9.8095 kilowatt
  • 1 horsepower (electric) =  2547.16 Btu/hr (thermo) = 2545.46  Btu (IST)/hr = 2543.49 Btu (mean)/hr = 178.298 calorie/sec (thermo) = 641.87 calorie, kg/hr (thermo) = 7.46×109 erg/sec = 33013 foot pound-force/min = 550.2 foot pound-force/sec = 1.0004 horsepower (mech) = 0.07605 horsepower (boiler) = 1.01428 horsepower (metric) = 0.99994 horsepower (water) = 746 joule/sec = 0.746 kilowatt = 746 watt
  • 1 horsepower (metric) = 2511.3 Btu/hr (thermo) = 2509.6 Btu (IST)/hr = 2507.7 Btu (mean)/hr = 6.328×105 calorie/hr (thermo) = 6.324×105 calorie (IST)/hr = 6.319×105 calorie (mean)/hr = 7.35×109 ergs/sec = 32548.6 foot pound-force/min = 542.476 foot pound-force/sec = 0.9863 horsepower (mech) = 0.07498 horsepower (boiler) = 0.9859 horsepower (electric) = 0.98587 horsepower (water) = 75 kg-force meter/sec (kg m/s) = 0.7355 kilowatt =   735.499 W = 75 kg m/s
  • 1 horsepower (water) = 33015 foot pound-force/min = 1.00046 horsepower (mech) = 0.07605 horsepower (boiler) = 1.00006 horsepower (electric) = 1.01434 horsepower (metric) = 0.746043 kilowatt
  • 1 refrigeration Ton = 12,000 Btu/h cooling = 3.516 kW = 3,025.9 k Calories/h
  • 1 cooling tower Ton = 15,000 Btu/h = 3,782 k Calories/h
  • 1 ft lb/s = 1.3558 W
  • 1 Btu/s = 1055.1 W
  • 1 Btu/h = 1 Btuh = 0.293 W = 0.001 MBH
  • 1 cheval vapeur (French) = 0.98632 horsepower

Power per unit area
  • 1 W/m2 = 0.3170 Btu/(h ft2) = 0.85984 kcal/(h m2)

Pressure
atmosphere, centimeters of mercury, foot of water, bar, barye, centimeter of water, dyne/centimeter2, inch of mercury, inch of water, kgf/centimeter2, kgf/meter2, lbf/foot2, lbf/inch2 (psi), millibar, millimeter of mercury, pascal, torr, newton/meter2
  • Standard Atmospheric Pressure 1 atm = 101.325 kN/m2 = 1.01325 bar = 101.325 kPa = 14.7 psia = 0 psig = 29.92 in Hg = 760 torr = 33.95 Ft.H2O = 407.2 In.W.G (Water Gauge) = 2116.8 Lbs./Sq.Ft.
  • 1 N/m2 = 1 Pa = 1.4504×10-4 lb/in2 = 1×10-5 bar = 4.03×10-3 in water = 0.336×10-3 ft water = 0.1024 mm water = 0.295×10-3 in mercury = 7.55×10-3 mm mercury = 0.1024 kg/m2 = 0.993×10-5 atm
  • 1 Pa = 10-6 N/mm2 = 10-5 bar = 0.1020 kp/m2 = 1.02×10-4 m H2O = 9.869×10-6 atm = 1.45×10-4 psi (lbf/in2)
  • 1 N/mm2 = 106 Pa = 10 bar = 1.020×105 kp/m2 = 102.0 m H2O = 9.869 atm = 145.0 psi (lbf/in2)
  • 1 mmHg = 1 torr = 0.01934 lb/in2
  • 1 atm = 101,325 Pa (N/m2) = 1.013×102 kN/m2 = 1.033×104 kp/m2 = 1.033 kp/cm2 = 1.013 bar = 14.696 psi (lb/in2) = 407.1 in H2O at 62 0F (16.7 oC) = 33.9 ft H2O at 62 0F (16.7 oC) = 10.33 m H2O at 62 0F (16.7 oC) = 29.92 in mercury at 62 0F (16.7 oC) = 760 mm mercury at 62 0F (16.7 oC) = 760 torr
  • 1 bar = 1×105 Pa (N/m2) = 0.1 N/mm2 = 10,197 kp/m2 = 10.20 m H2O = 0.98692 atm = 14.5038 psi (lbf/in2) = 1×106 dyne/sq cm = 750 mmHg = 1×106 barye (French) = 75.0062 cm Hg (0oC) = 33.4883 ft H2O (60oF) = 1019.72 gram-force/sq cm = 29.530 in Hg (32oF) = 1.01972 kg-force/sq cm = 1000 millibar = 2088.54 pound-force/sq foot
  • 1 kp/m2 = 9.81 Pa (N/m2) = 9.807×10-6 N/mm2 = 10-3 m H2O = 1 mm H2O = 0.9681×10-4 atm = 1.422×10-3 psi (lb/in2) = 0.0394 in H2O = 0.0736 mm mercury
  • 1 psi (lb/in2) = 144 psf (lbf/ft2) = 6,894.8 Pa (N/m2) = 6.895×10-3 N/mm2 = 6.895×10-2 bar = 27.71 in H2O at 62oF (16.7oC) = 703.1 mm H2O at 62oF (16.7oC) = 2.0416 in mercury at 62oF (16.7oC) = 51.8 mm mercury at 62oF (16.7oC) = 703.6 kg/m2 = 0.06895 atm = 2.307 Ft. H2O = 16 ounces
  • 1 psf (lbf/ft2) = 47.88 N/m2 (Pa) = 0.006944 lbf/in2 (psi)
  • 1 dyn/cm2 = 145.04×10-7 lbf/in2
  • 1 in mercury (Hg) = 3,376.8 N/m2= 0.49 lb/in2 = 12.8 in water
  • 1 Ounce = 1.73 In.W.C.
  • 1 Ft.H2O = 0.4335 psi = 62.43 Lbs./Sq.Ft.
  • 1 in water = 248.8 N/m2= 0.0361 lb/in2 = 25.4 kg/m2 = 0.0739 in mercury
  • 1 m H2O = 9806.7 Pa = 9.807×10-3 N/mm2 = 0.0987 bar = 1,000 kp/m2 = 0.09678 atm = 1.422 psi (lbf/in2)
  • 1 mm water = 9.81 Pa (N/m2) = 1 kg/m2 = 0.0736 mm mercury = 0.9677×10-4 atm
  • 1 mm mercury = 0.0193 lb/in2 = 133 N/m2 = 12.8 mm water
  • 1 barye (French) = 1.0 dyne/sq cm = 0.10 newton/sq meter = 0.10 Pascal

Note! When using pressure units based on liquid columns (like mm Water, in Water, mm Hg …) – be aware that densities of liquids varies with temperature. For more exact conversions consult temperature density sources for the actual liquids.


Torque, Moment
foot-pound torque, newton-meter
  • 1 ft lb = 1.356 Nm

Velocity, Speed
foot/second, inch/second, meter/second, kilometer/hour, knot, mile/hour,nautical mile per hour
  • 1 ft/s = 0.3048 m/s
  • 1 ft/min = 5.08×10-3 m/s = 0.0183 km/h = 0.0114 mph
  • 1 mph = 0.44703 m/s = 1.609 km/h = 88 ft/min = 5280 ft/hr = 1.467 Ft./sec. = 0.8684 knots
  • 1 m/s = 3.6 km/h = 196.85 ft/min = 2.237 mph
  • 1 km/h = 0.2778 m/s = 54.68 ft/min = 0.6214 mph = 0.5396 knot
  • 1 knot (nautical mile per hour) = 0.514444444 m/s = 1.852 kilometers per hour = 1.1515 miles per hour= 1 nautical miles per hour
  • 1 League = 3.0 Miles
  • 1 cm/sec = 1.9685 foot/min = 0.0328 foot/sec = 0.036 km/hr = 0.0194 knots (Int) = 0.6 meter/min = 0.02237 mile/hr = 0.000373 mile/min

Viscosity Dynamic
  • 1 lb/(ft s) = 1.4879 Pa s = 14.88 P = 1,488 cP = 0.1517 kp s/m2
  • 1 cP (Centipoise) = 10-3 Pa s = 0.01 Poise = 1.020×10-4 kp s/m2 = 6.721×10-4 lb/(ft s) = 0.00100 (N s)/m2 = 0.01 gram/(cm sec) = 2.4191 lb/(ft hr)
  • 1 kg/(m s ) = 1 (N s)/m2 = 0.6720 lbm/(ft s) = 10 Poise
  • 1 P (Poise) = 0.1 Pa s = 100 cP = 1.020×10-2 kp s/m2 = 6.721×10-2 lb/(ft s) = 0.1 kg/ms
  • 1 Pa s (N s/m2) = 10 P (Poise) = 103 cP = 0.1020 kp s/m2 = 0.6721 lb/(ft s)
  • 1 kp s/m2 = 9.80665 Pa s = 98.07 P = 9,807 cP = 6.591 lb/(ft s)
  • 1 reyns = 1 1bf s/in2 = 6894.76 Pa s
  • Dynamic, Absolute and Kinematic Viscosity – An introduction to dynamic, absolute and kinematic viscosity and how to convert between CentiStokes (cSt), CentiPoises (cP), Saybolt Universal Seconds (SSU) and degree Engler.

Viscosity Kinematic
  • 1 ft2/s = 0.0929 m2/s
  • 1 ft2/ h = 2.581×10-5m2/s
  • 1 St (Stokes) = 1×10-4 m2/s = 100 cSt = 1.076×10-3 ft2/s
  • 1 m2/s = 104 St = 106 cSt = 10.764 ft2/s= 38750 ft2/h
  • 1 cSt (Centistoke) = 10-6 m2/s = 0.01 Stokes = 1.076×10-5 ft2/s = 1 square mm/sec

Volume Flow
  • 1 dm3/s (kg/s water) = 13.20 Imp. gal (UK)/min
  • 1 m3/s = 3,600 m3/h = 1,000 dm3(liter)/s = 35.32 ft3/s = 2,118.9 ft3/min = 13,200 Imp.gal (UK)/min = 15,852 gal (US)/min
  • 1 m3/h = 2.7778×10-4 m3/s = 0.2778 dm3(litre)/s = 9.810×10-3 ft3/s = 0.5886 ft3/min (cfm) = 3.667 Imp.gal (UK)/min = 4.403 gal (US)/min
  • 1 m3/h = 103 dm3(litre)/h = 16.67 dm3(litre)/min = 0.27878 dm3(litre)/s
  • 1 ft3/min = 1.7 m3/h = 0.47 l/s = 62.43 Lbs.H2O/Min.
  • 1 dm3(litre)/s = 10-3 m3/s = 3.6 m3/h = 0.03532 ft3/s = 2.1189 ft3/min (cfm) = 13.200 Imp.gal (UK)/min = 15.852 gal (US)/min = 792 Imp. gal (UK)/h
  • 1 dm3(litre)/s = 60 litre/min = 3,600 litre/h
  • 1 ft3/s = 0.0283168 m3/s = 101.9 m3/h = 28.32 dm3(litre)/s = 60 ft3/min = 373.7 Imp.gal (UK)/min = 448.9 gal (US)/min
  • 1 Imp.gal (UK)/min = 7.57682×10-5 m3/s = 0.273 m3/h = 0.0758 dm3(litre)/s = 2.675×10-3 ft3/s = 0.1605 ft3/min = 1,201 gal (US)/min
  • 1 gal (US)/min =6.30888×10-5 m3/s = 0.227 m3/h = 0.06309 dm3(litre)/s = 2.228×10-3 ft3/s = 0.1337 ft3/min = 0.8327 Imperial gal (UK)/min

Energy
British Thermal Unit (Btu), calorie, joule, kilojoule, electron volt, erg, foot lbf, foot poundal, kilocalorie, kilowatt hour, watt hour,
  • 1 J (Joule) = 0,1020 kpm = 2.778×10-7 kWh = 2.389×10-4 kcal = 0.7376 ft lbf = 1 (kg m2)/s2 = 1 watt second = 1 Nm = 1 ft lb = 9.478×10-4 Btu
  • 1 kpm = 9.80665 J = 2.724×10-6 kWh = 2.342×10-3 kcal = 7.233 ft lbf = 9.295×10-3 Btu
  • 1 kWh = 3.6×106 J = 3.671×105 kpm = 859.9 kcal = 2.656×106 ft lbf = 3.412×103 Btu
  • 1 kJ = 1 kNm = 1kWs = 103 J = 0.947813 Btu = 737.6 ft lbf = 0.23884 kcal
  • 1 Btu (British thermal unit) = 1,055.06 J = 107.6 kpm = 2.92875×10-4 kWh = 251.996 calorie = 0.252 kcal = 777.649 ft lbf = 1.0544×1010 erg = 0.293 watt hour = 0.999331 Btu (Int Steam Tab) = 0.998560 Btu (mean) = 25020.1 foot-poundal = 107.514 kg force meter = 1.0751×107 gram-force cm = 0.000393 hp-hour = 10.456 liter atm = 1054.35 wattsecond
  • 1 cal = 4.186 J
  • 1 kcal = 4186,8 J = 426,9 kp m = 1.163×10-3 kWh = 3.088 ft lbf = 3.9683 Btu = 1,000 cal
  • 1 ft lbf (foot pound force) = 1.3558 J = 0.1383 kp m = 3.766×10-7 kWh = 3.238×10-4 kcal = 1.285×10-3 Btu
  • 1 hp h (horse power hour) = 2.6846×106 J = 0.7457 kWh
  • 1 erg = 1 (g cm2)/s2 = 10-7 J
  • 1 eV = 1.602×10-19 J
  • 1 Q = 1018 Btu = 1.055×1021 J
  • 1 Quad = 1015 Btu
  • 1 Therm = 100,000 Btu
  • 1 kg m = 7.233 ft lb = 0.00929 Btu = 9.806 Joule

Energy per unit mass
  • 1 kJ/kg = 1 J/g = 0.4299 Btu/ lbm = 0.23884 kcal/kg


Flow – see Volume flow
Force
dyne, kilogram force (kgf), kilopound force, kip, lbf (pound force), ounce force (avoirdupois), poundal, newton
  • 1 N (Newton) = 0.1020 kp = 7.233 pdl = 7.233/32.174 lbf = 0.2248 lbf = 1 (kg m)/s2 = 105 dyne = 1/9.80665 kgf
  • 1 lbf (Pound force) = 4.44822 N = 0.4536 kp = 32.17 pdl = 4.448×105 dyn
  • 1 dyn = 1 (g cm)/s2
  • 1 kg has a weight of 1 kp
  • 1 kp (Kilopond) = 9.80665 N = 2.205 lbf = 70.93 pdl
  • 1 pdl (Poundal) = 0.13826 N = 0.01409 kp = 0.03108 lbf

sumber: www.engineeringtoolbox.com



(terima kasih)




www.ibljtv.wordpress.com     twitter@iblj

Senin, 09 Januari 2012

Pengetahuan tentang CDI RextoR

 
 
 
 produc knowlage cdi RextoR.....
CDI merupakan pengatur pengapian
mesin yang cukup menunjang
performa mesin. Diantara berbagai
merk CDI yang ada, kali ini kita akan
membahas cdi RextoR mengenai PCDI
(Programmable CDI)
Rextor.
Programmable CDI Rextor merupakan
CDI pertama di Indonesia yang bisa
diprogram langsung melalui komputer.
CDI ini memberikan keleluasaan bagi
user untuk menentukan derajat
pengapian sehingga mendapatkan
kinerja mesin yang lebih optimal.
Dengan mempunyai kemampuan untuk
menyimpan sebanyak 14 Map (kurva
pengapian) dalam satu CDI dan
ditambah lagi dengan fitur
penyettingan kurva pengapian tiap
posisi gigi (Multi Map), membuat CDI ini
lebih powerful untuk aplikasi balap
(Racing). Programmable CDI Rextor
merupakan tipe CDI DC dengan TM
menggunakan Motorola
Microprocessor berkecepatan 24
MegaHertz untuk jaminan akurasi
pengapian (0,01 %) guna menghasilkan
akselerasi yang hebat dan
peningkatan tenaga mesin.
Fitur Programmable CDI :
 
1. Mempunyai kemampuan untuk
menyimpan 14 kurva pengapian.
1. Pilihan untuk menggunakan satu
kurva
pengapian (Single map) atau beberapa
kurva pengapian (Multi map).
 
2. Menyimpan (save) atau mengambil
(load) kurva pengapian dari komputer
(PC).
 
3. Grafik kurva pengapian untuk
memudahkan penyettingan kurva
pengapian.
 
4. Penyettingan derajat pengapian
setiap
kenaikan 500 rpm sampai dengan
19,500 rpm.

Jenis-Jenis PCDI Rextor:
CDI Rextor Extreme Editions
 

CDI Racing AC tipe
Programmable ,merek Rextor dengan
fitur 14 kurva pengapian yang dapat
dirubah sesuai karakter mesin, akan
memaksimalkan performa mesin
dengan dukungan energi pengapian
besar. Meningkatkan dan
mengoptimalkan performa mesin
modifikasi, sehingga akselerasi dan
tenaga lebih mantap. Dapat diaplikasi
dengan magnet dan sepul Yamaha
Vega.
Tersedia juga tipe CDI Rextor Xtreme
Yamaha Scorpio.
Harga Rp. 1.000.000,00

CDI Rextor GRM Series
CDI AC programmable yang kompatible

dengan pengapian Special Engine
Yamaha YZ 125 dilengkapi fitur map
selector memudahkan dalam memilih
kurva pengapian yang tepat. Energi
pengapian besar sangat cocok untuk
kompresi tinggi dan bahan bakar
beroktan tinggi.
Harga Rp. 2.000.000,00

CDI Rextor Limited Edition Series

Merupakan produk dalam negeri dari
produsen PT. Rextor Technology
Indonesia, Batam. Salah satu generasi
CDI DC yang dilengkapi fitur derajat
pengapian yang dapat diprogram per
500 rpm putaran mesin. Terdapat 14
kurva pengapian dan fitur multi map
yang secara otomatis membedakan
kurva pengapian pada tiap posisi gigi
rasio, sehingga dapat megoptimalkan
performa ternaga dan torsi sesuai
dengan karakteristik mesin. Tersedia
untuk berbagai merek kendaraan
Yamaha, Suzuki, Kawasaki dan Honda.
Rp. 1.500.000,00

CDI Rextor Monster series

CDI Rextor Monster series adalah CDI
DC programmable dengan energi
pengapian yang besar, menghasilkan
nyala api yang panjang sehingga
proses pembakaran lebih cepat dan
efisien. Meningkatkan performa mesin
serta handal dalam penggunaan di
roadrace, dragrace ataupun grastrack.
Dilengkapi dengan 14 kurva pengapian
yang dapat dipilih berdasar keperluan
mesin, fitur multi map dan adjustable
pickup and pulser angle.Tersedia
untuk berbagai merek kendaraan
Yamaha, Suzuki, Kawasaki dan Honda.
Harga Rp. 2.500.000,00

CDI Rextor Pro Drag Series

CDI Rextor Prodrag didesain dengan
fitur yang sangat lengkap untuk
menunjang segala kebutuhan sebuah
mesin balap. Fitur tersebut
diantaranya terdapat 14 kurva
pengapian yang dapat dipilih,
dikombinasikan serta diprogram ulang
sesuai karakter mesin, quick shifter,
shift light, real engine rpm limiter.
Tersedia untuk berbagai merek
kendaraan Yamaha, Suzuki, Kawasaki
dan Honda.
Harga Rp. 3.000.000,00
 
Nah, sekarang bagaimana melakukan
program PCDI Rextor?
 
Yang pertama harus diperhatikan, 
kamu harus bisa pake computer dulu
dong heheheh…. Nih Spesifikasi
Komputer minimumnya yang bisa
digunakan buat programin PCDI :
- Processor : Pentium II
- RAM : 64 MB
- Ruang Harddisk : 200 MB
- Sistem Operasi : Windows 98 SE / Win
ME / Win 2000 Sp4 / Win XP / Linux
 
 
(Semoga bermanfaat)
 
TERIMA KASIH
 
www.ibljtv.worpress.com        twitter@iblj

Kamis, 05 Januari 2012

menghitung torsi dengan karakter motor over bore dan over stroke

Yuu... kita sama2 belajar menghitung torsi dengan karakter motor over bore dan over stroke

1.Cranking pressure = kgf / cm 2
2.Luas Permukaan Piston = 3.14 x diameter kuadrat / 4
    --> asumsi piston flat tanpa coakan.
... 3.Gaya yg diterima piston
    = Cranking Pressure dikali Luas Permukaan Piston
4.Torsi yg dihasilkan pada poros kruk as
    = Gaya yg diterima piston x Stroke / 2

  Ok, kita misalkan saja untuk

1.Cranking pressure = 50 kgf / cm2 <sama untuk kedua mtr>
2.Motor A, ambil contoh aja Supra 125
   - bore x stroke = 52.4 x 57.9
   - displacement = 124.8 cc
3.Motor B, ambil contoh Zone
   - Diameter x Langkah : 56,0 x 50,6mm
   - Jumlah & Isi Silinder : Satu buah & 124,6cc

over  stroke (ukuran stroke lebih besar dari pada seher)

 




catatan : cranking pressure disini, maksudnya (tekanan) pas
terjadi ledakan di combustion chamber, dan sebagai contoh
dianggap sama untuk kedua motor. Ceritanyakita coba ngitung
berapa gaya yg diterima piston,dan berapa torsi yg duhasillkan.



   Untuk Motor Yg Over Stroke
- Luas Perm Piston = 3.14 x 5.24 x 5.24 / 4 = 21.554 cm 2
- Gaya yg diterima piston dengan cranking pressure 50 kgf / cm2
..= 50 kgf / cm2 x 21.554 cm2 = 1077.7 kgf

- Torsi yg dihasilkan pada poros kruk as
= 1077.7 kgf x 5.79 cm / 2 = 3119.9415 kgf.cm
= 31.199415 kgf.m
= 305.754 Nm




over bore (ukuran seher lebih besar dari pada stroke)

 




  <note, ini cuma contoh yah, cranking pressure pada ruang
   bakar supra 125 sebenarnya ga  nyampe 50 kgf / cm2)



B.Untuk Motor Yg Over Bore
   - - Luas Perm Piston = 3.14 x 5.06 x 5.06 / 4 = 24.6176 cm 2
   - Gaya yg diterima piston dengan cranking pressure 50 kgf / cm2
   ..= 50 kgf / cm2 x 24.6176 cm2 = 1230.88 kgf

   - Torsi yg dihasilkan pada poros kruk as
   = 1230.88 kgf x 5.06 cm / 2 = 3114.1264 kgf.cm
   = 31.141264 kgf.m
    = 305.184 Nm

 Dengan contoh cranking
pressure 50 kgf / cm2 juga didapet hasil bahwa zone
yg over bore ama karisma yg over stroke ternyata bisa punya
torsi yg sama. Asalkan cranking pressure nya sama.
 

Ada pun alat-alat ukur yg di gunakan adalah

1.sigmat

2.compresion gauge

nah dengan contoh perhitungan ini ....teman2 bisa mengaplikasikan pada motor korekan masing2...
dan bisa buat kesimpulan masing2...berarti ga selamanya yg memiliki stroke panjang memiliki torsi yg besar asalkan Cranking pressure (kompresi/tekanan) di perhitungkan dengan tepat...buktinya motor yg memiliki stroke yg lebih pendek bisa menyamai torsinya dengan stroke yg lebih panjang....hayo yg mau sroke up....itung2 dulu oke...biar ga mubajir...


Semoga bermanfaat

Berita Terkait : 
Gabung juga di Grup I B L J Komunitas Drag Bike Indonesia

Rabu, 04 Januari 2012

Rod Stroke Ratio

(sumber lebih dari berbagai artikel di web)
untuk teman-teman yg ingin membuat melakukan stroke up pada mesin ada baiknya teman2 memahami rumusan dibawah ini
Diawali maraknya langkah bore up yang dilakukan oleh biker di Indonesia dengan cara menggeser pin big end di kruk as supaya langkah stroke juga bergeser, khususnya skutik, membuat saya tertarik untuk browsing lebih lanjut tentang hal tersebut. Saya kemudian mendapati istilah bule dalam hal ini adalah Stroker. Saya juga mendapati bahwa mereka tidak saja menggeser (mengganti) bid end di kruk as tapi juga mengganti setang piston dengan yang lebih panjang juga. Lalu ada istilah Rod to Stroke Ratio yang masih asing di telinga saya.. Saya lalu browsing lebih lanjut dan lebih banyak, saya save di flash disk lalu saya print, baru saya baca berulang-ulang.




Rod Stroke Ratio adalah Rasio Panjang Setang Piston (B) dan Panjang Stroke (A).
Dengan cara B dibagi A.

Masih menurut banyak artikel, lazimnya rasio pabrikan antara 1.4 di angka terkecil sampai 2.0 di angka rasio terbesar. Memang ada beberapa yang lebih dari 2.0 tapi sangat jarang ditemui. Rasio panjang dan pendek masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tinggal bagaimana tujuan yang akan dicapai. , bahwa kompromi itu lazim dalam mendesain atau membangun mesin. Masih menurut artikel yang banyak itu, Rod Stroke Ratio atau yang mereka sebut dengan “n” values, punya angka ideal di tengah-tengah antara pendek dan panjang yaitu 1.75 sampai 1.80.

Lebih lanjut dalam artikel Stroker tersebut, tujuan mereka ikut mengganti setang piston lebih panjang bersamaan dengan langkah mereka menggeser (mengganti kruk as) stroke yang lebih panjang, adalah supaya mempertahankan Rod Stroke Ratio seperti semula. Salah satu alasannya adalah keausan di dinding liner. Lalu ada istilah sudut setang piston atau Rod Angularity.





Rod Angularity atau pada gambar diatas adalah sudut P.

Semakin besar sudut tersebut (semakin kecil rod stroke ratio), maka tekanan yang diterima dinding liner silinder pun akan semakin besar..

Berikut gambar lebih detail, jika stoke sama, tetapi dengan panjang setang piston berbeda maka sudut P tersebut juga berbeda.



Semakin besar sudut P.. (misal pada gambar dibawah) maka tekanan kesamping/gesekan/friksi/power loss yg diterima dinding silinder saat kruk as berputar pun semakin besar..



Maka masih menurut artikel tersebut, semakin besar sudut selain masalah keausan, dipercaya juga adanya power loss yang lebih besar akibat friksi dengan dinding silinder juga semakin besar. Masih menurut artikel lagi, umunya race built purpose engine mengaplikasi rasio yang besar bahkan bisa sampai 2.2 atau lebih. Akan tetapi hal ini sulit dilakukan pada mesin produksi massal karena panjang total dan besar mesin akan terlalu besar dalam hal cost dan space di engine bay.

Oh, iya… Para pelaku penaik stroke dalam artikel itu tidak perlu menggeser atau mengganjal blok silinder supaya lebih panjang (keluar) seperti yang biasa dilakukan di skutik di Indonesia.. Atau bahasa orang pinter, offset nya.. supaya pas TMA ma TMB nya sehubungan dengan panjang pendek blok silinder..
Karena menurut mereka (stroker).. Desain piston juga dipengaruhi Rod Stroke Ratio, khususnya panjang dinding piston dan posisi pin piston.. (jadi desain piston ada maksudnya)
Supaya rok piston gak mentok seperti ini..



Maka mereka menggunakan desain piston yang beda terutama pada peletakan pin piston (small end)..



Semakin besar Rod Stroke Ratio maka piston bisa semakin pendek panjang total nya dan posisi pin dapat lebih mendekati ring ketiga atau ring oli, atau semakin keatas.

Sejauh ini tampaknya memang lebih prefer ke Rod Stroke Ratio yang lebih besar, akan tetapi semuanya sangat relatif.
, Rod Stroke Ratio juga mempengaruhi kemampuan hisap mesin selain bore dan stroke tentunya.. Rod Stroke Ratio sangat berpengaruh pada piston position relatively from and to TDC. Piston position kan bukan cuma TMA dan TMB.

Misal suatu mesin memiliki stroke 50mm..
Satu stroke sama dengan putaran kruk as setengah lingkaran atau 180 derajat.
Misal saat putaran kruk as 90 derajat, atau setengah stroke (full stroke 180 derajat), sangat kecil kemungkinan posisi piston berada tepat ditengah stroke atau 50mm/2 = 25mm dari TMA ataupun TMB.
Rod Stroke Rasio sangat menentukan posisi piston ini.. Rasio yang berbeda, akan membuat piston position yang berbeda pula terhadap TMA dan TMB masing-masing..
Misalnya, rasio 1.7, saat kruk as 90 derajat, posisi piston 23mm dari TMA.
Sedangkan rasio 1.4, saat kruk as 90 derajat yang sama, posisi piston di 26mm dari TMA.


Dengan contoh diatas, maka kemampuan hisap mesin pun berbeda.. karena dipercaya satu desain lebih cepat bergerak dari dan menuju TMA daripada desain yang lain. Dan hal ini dipercaya Rod Stroke Ratio sangat menentukan. 
berdasarkan posisi piston tersebut dan kecepatan piston saat mendekati TMA atau TMB, dapat ditentukan besarnya payung klep, desain port, panjang pendek port, besar kecil port, dan terpenting lagi durasi camshaft yg optimal khususnya patokan kapan sebaiknya puncak lobe ditempatkan.. lebih dini, atau lebih lambat.. Puncak lobe disebut Lobe Centerline, yaitu saat klep akan membuka maksimal lift nya.

Konon juga dari Rod Stroke Ratio dapat di prediksi mana yang lebih diutamakan dari desain port, klep, dan cam, yaitu lebih mengutamakan velocity atau cfm.
Tentu saja berdasarkan kecepatan piston turun dan posisi piston..

Klo saya menilai dari artikel tsb, misal lift maksimal terjadi terlalu dini pada mesin ber rod stroke ratio besar, saat piston bergerak lambat menjauhi TMA, tapi dikasih lift maksimal, dan desain port gede.. maka semuanya jadi mubazir dan gak optimal.. seharusnya lift maksimal diberikan saat piston mulai cepat bergerak menuju TMB.. Karena kecepatan piston gak sama dari dan ke TMA juga TMB. Sedangkan Rod Stroke Ratio Kecil, pergerakan piston menjauhi TMA saat langkah hisap dipercaya lbh cepat.. dan akan memperlambat saat mendekati TMB dan manjauhi TMB.. Tentu saja jika dibandingkan Rod Stroke Ratio yang bebeda.

Menurut saya teori ini sangat menarik dan make sense bagi saya, dan tidak semata untuk yang mau ngeser stroke tapi juga supaya kita bisa lebih memahami mesin standar kita sendiri.. Rod Stroke ratio, berapa sudut mesin kita? Trus klo teori ini digabungkan ma teori sudut mesin, misal V 90 derajat.. maka akan semakin menarik lagi.. mungkin saja kan sudut kemiringan mesin bukan asal miring? ato karena alasan sirkulasi oli atau gaya gravitasi yg membantu sekaligus membebani kerja mesin.. tapi mungkin saja sudut kemiringan silinder juga untuk mengakali friksi rod stroke ratio..
Bro-bro yang laen silahkan ber intepretasi sendiri,


(semoga bermanfaat)


Senin, 02 Januari 2012

Beberapa cara melakukan naik srtoke nol paking

Saya akan mencoba membahas semua ini  dengan simple langsung aja....

1.Cara pertama naik stroke nol paking
bisa dilakukan dengan menggunakan stang seher yg menggunakan ukuran  pen bawahnya lebih kecil...umumnya menggukanstang seher motor 2tak sperti suzuki ts,yamaha robot dll...teman2 bisa lihat langsung contoh seperti gambar di bawah ini...

Contoh gambar kruk as standard yg belum di modifikasi



Contoh gambar kruk as setelah di modifikasi (naik stroke)



selanjutnya memodifikasi piston...bagian bawah piston dikurangi beberapa mm (di sesuaikan kondisi) biar tidak mentok kruk as pada saat berada di TMB (titik mati bawah) berikut contoh gambarnya
jika kondiisi piston masi saja mentok teman2 bisa lakukan dengan cara terakhir yaitu dengan pemapasan kruk as....brikiut contoh gambarnya.....
langkah selanjutnya tgl penyesuain tinggi piston pada blok langkah ini tgl menyesuaikan saja...bila kondisi piston  mendem (tenggelam) beberapa mm bisa memapas bagian bawah blok sesuai jarak mendem(tenggelam) piston tsb.....
bila piston nongol (keluar) bisa dengan cara menambahkan beberapa paking disesuaikan hingga pas...
kenapa saya tidak memberikan ukuran yg pasti dikarnakan agar teman2 bisa mengaplikasikan kesemua jenis motor...jadi teman2 tinggal menyesuaikan saja..... dan penjelasan saya ini hanyalah sebagai gambaran...




                                         oke selanjutnya cara yg ke dua


2.cara ini menggunakan pen stroke dan seher yg lebih pendek
(umumnya menggunakan seher cbr,sonic/racing part yg ber ukuran pendek)
masi menggunakan stang seher yg pendek seperti stang seher smash,grand dll..... namun tetap menggunakan ukuran pen bawah yg sama...bedanya disini menggunakan pen stroke (pen bawah di modifikasi /bisa lansung menggunakan part racing)
                                                       
  contoh gambar pen stroke
 contoh gambar seher yg lebih pendek




KRUK AS SEBELUM DI MODIFIKASI



KRUK AS SETELAH DI MODIFIKASI

selanjutnya memodifikasi piston...bagian bawah piston dikurangi beberapa mm (di sesuaikan kondisi) biar tidak mentok kruk as pada saat berada di TMB (titik mati bawah) berikut contoh gambarnya
jika kondiisi piston masi saja mentok teman2 bisa lakukan dengan cara terakhir yaitu dengan pemapasan kruk as....brikiut contoh gambarnya.....
langkah selanjutnya tgl penyesuain tinggi piston pada blok langkah ini tgl menyesuaikan saja...bila kondisi piston  mendem (tenggelam) beberapa mm bisa memapas bagian bawah blok sesuai jarak mendem(tenggelam) piston tsb.....
bila piston nongol (keluar) bisa dengan cara menambahkan beberapa paking disesuaikan hingga pas...
kenapa saya tidak memberikan ukuran yg pasti dikarnakan agar teman2 bisa mengaplikasikan kesemua jenis motor...jadi teman2  tinggal menyesuaikan saja ......dan penjelasan saya ini hanyalah sebagai gambaran...







bahan tulisan ini blm terselesaikan secara menyeluruh namun sekiranya dapat membantu teman2 yg ingin mengetahui secara singkat proses konstruksinya..karna sebagian besar teman2 banyak belum mengerti/gambaran cara pembuatan stroke up nol paking

(semoga bermanfaat)

TERIMA KASIH

John Britten pencipta v 1000 motor buatanya mampu menjabani HONDA,YAMAHA,SUZUKI DAN DUCATTI



John Britten lahir dari Bruce dan Ruvae Britten di Christchurch pada 10 menit sebelum tengah malam dan adik Marguerite tepat setelah tengah malam, sehingga meskipun mereka kembar mereka merayakan ulang tahun mereka pada tanggal yang berbeda. Bahkan dalam kelahiran dia menunjukkan dia ditakdirkan untuk menjadi "berbeda". Sebuah disleksia, ia perlu memiliki pertanyaan ujian dibacakan kepadanya di sekolah dan selama pendidikan tinggi, dan jawaban-jawabannya direkam oleh penulis, namun itu tidak menghentikan dia dari berkembang menjadi seorang insinyur arsitektur yang luar biasa dan desainer.

Pahlawan masa kecilnya menonjol sesama Selandia Baru, Richard Pearse (pelopor penerbang), Bill Hamilton (ayah dari perahu jet), Bruce McLaren (juara driver dan pendiri Tim Formula Satu McLaren), dan Burt Munro (rekor dunia sepeda motor dan kendaraan cepat subjek film India Tercepat di Dunia). Dalam masa pendek sendiri, Britten secara teratur dan baik dibandingkan dengan semua pahlawan nya.
Britten menyelesaikan program empat tahun teknik mesin di sekolah malam sebelum bergabung dengan ICI sebagai juru kadet, memberinya berbagai pengalaman kerja termasuk desain cetakan, desain pola, berputar logam dan berbagai desain teknik mesin.
Yohanes pergi ke Inggris dimana ia bekerja selama empat bulan dengan Sir Alexander Gibb & Partners pada desain jalan raya yang menghubungkan M1 untuk M4.
Kembali di Selandia Baru ia desain insinyur untuk Rowe Teknik, merancang off-road peralatan dan mesin berat. Pada 1976, ia membangun kiln kaca dan masuk ke bisnis sebagai seorang seniman yang baik merancang dan membuat pencahayaan buatan tangan kaca, kemudian bergabung dengan manajemen keluarga properti dan pengembangan bisnis.
John bekerja pada desain sepeda motor untuk beberapa tahun, mengembangkan metode inovatif menggunakan bahan komposit dan desain kinerja mesin. Dia menciptakan motor Britten Perusahaan pada tahun 1992 untuk memproduksi mesin revolusioner untuk desain sendiri dibuat dari bahan ringan dan menggunakan mesin ia membangun dirinya sendiri, yang menjadi terkenal di seluruh dunia.



Sepeda motor Britten Nya memenangkan balapan dan mengatur berbagai rekor kecepatan di sirkuit internasional, dan terkejut dunia sepeda motor pada tahun 1991 ketika mereka datang luar biasa kedua dan ketiga terhadap mesin-mesin pabrik dalam Pertempuran si Kembar di Daytona, Amerika Serikat Of America.


Salah satu sepeda motor radikal Britten adalah pada tampilan permanen di Museum Te Papa Selandia Baru Tongarewa, di Wellington, Selandia Baru. Namun telah ada beberapa kontroversi mengenai apakah mesin pada layar adalah pembalap asli atau hanya sebuah "sepeda bayangan", dirakit dari suku cadang
Selandia Baru berduka pada tahun 1995 ketika John meninggal pada usia 45 setelah menderita sakit yang singkat terkait dengan kanker kulit.



semoga sosok John Britten bisa menjadi inspirasi bagi para  mekanik-mekanik di seluruh indonesia

(semoga bermanfaat)

TERIMA KASIH...


www.ibljtv.wordpress.com              twitter @iblj

FU TSR Vs MX TEKNO TUNER Sentul 31 maret 2014

Ninja TPZ VS Ninja D2M 7 Maret 2014 Win : TPZ

MX Hawadis VS Nija 250 WIn : Ninja 250 Sentul 12 Juni 2013

Pengikut

Popular Posts